Sekaten & Grebeg Maulud
Setiap tahun, ketika bulan Rabiul Awal tiba, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan dua perangkat gamelan pusaka yang hanya ditabuh satu kali setahun. Selama sepekan penuh, nada-nada pelog dari Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Nagawilaga mengalun dari Pagongan Masjid Gedhe — mengundang ribuan warga dan wisatawan merasakan apa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: syiar Islam yang dikemas dalam keindahan seni Jawa yang sudah berumur lebih dari lima abad.
Sekaten & Grebeg Maulud — Ketika Syiar Islam Berpelukan dengan Keindahan Budaya Jawa
Yogyakarta bukan sekadar kota dengan banyak destinasi wisata. Ia adalah kota yang masih hidup di dalam tradisinya — sebuah kondisi yang semakin langka di dunia modern dan justru menjadi daya tariknya yang paling tidak bisa ditiru. Di antara semua tradisi yang masih berlangsung di kota ini, dua yang paling ditunggu setiap tahun adalah Sekaten dan Grebeg Maulud.
Kedua perayaan ini adalah satu rangkaian yang tidak terpisahkan — keduanya termasuk dalam apa yang Keraton Yogyakarta sebut sebagai Hajad Dalem, kewajiban Sultan yang bersifat sakral dan dilaksanakan untuk keselamatan dan kemakmuran rakyatnya. Sekaten adalah sepekan tabuhan gamelan pusaka sebagai syiar dan peringatan; Grebeg Maulud adalah puncak prosesi di mana gunungan — lambang kemakmuran dari Sultan untuk rakyat — diarak dan diperebutkan masyarakat.
Yang membuat keduanya istimewa bukan hanya kemeriahannya, tapi kedalaman maknanya: ini bukan sekadar festival, melainkan kontinuitas yang tidak terputus selama lebih dari 500 tahun — sejak era Wali Sanga menggunakan gamelan sebagai alat syiar Islam di tanah Jawa hingga hari ini, di mana ribuan warga dan wisatawan masih rela berdiri berjam-jam di alun-alun untuk satu momen yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama.
“Sekaten merupakan salah satu hajad dalem penting, bukan hanya perayaan budaya — tapi juga sarana syiar Islam sejak zaman Wali Sanga. Tradisi ini selalu ditunggu masyarakat.”
— KRT Kusumonegoro, Koordinator Prosesi Garebeg Mulud Keraton Yogyakarta, 2025Kanjeng Kiai Gunturmadu & Kanjeng Kiai Nagawilaga — Dua Pusaka yang Hanya Berbicara Setahun Sekali
Di balik keindahan tabuhan gamelan Sekaten, tersimpan sejarah panjang perpecahan dan rekonsiliasi kerajaan Mataram
Nama “Sekaten” sendiri berasal dari kata “Sekati” — nama kolektif untuk dua perangkat gamelan pusaka milik Kasultanan Yogyakarta yang hanya ditabuh satu kali dalam setahun: Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Keduanya berlaras pelog dan menyimpan sejarah yang tidak kalah dalam dari bunyi yang mereka hasilkan.
Kiai Gunturmadu adalah yang lebih tua — dibuat pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram. Ketika Perjanjian Giyanti tahun 1755 memecah Mataram menjadi dua — Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta — gamelan-gamelan pusaka pun ikut dibagi. Kiai Gunturmadu diserahkan kepada Kasultanan Yogyakarta, sementara saudara gamelannya, Kiai Guntursari, dibawa ke Surakarta.
Untuk mengembalikan kelengkapan yang hilang, Sri Sultan Hamengku Buwono I kemudian memerintahkan pembuatan putran (duplikasi) dari Kiai Guntursari — lahirlah Kiai Nagawilaga. Karena perbedaan usia ini, dalam setiap prosesi Sekaten, Kiai Gunturmadu yang lebih tua selalu ditempatkan di Pagongan Kidul (sisi selatan, di sisi kanan Sultan), sementara Kiai Nagawilaga di Pagongan Lor (sisi utara).
Tujuh Prosesi Utama Hajad Dalem Sekaten — dari Miyos Gangsa hingga Pementasan Wayang Semalam Suntuk
Setiap prosesi memiliki makna dan posisi yang tepat dalam keseluruhan ritual — tidak ada yang bisa dipindahkan atau dipertukarkan
Prosesi Miyos Gangsa — secara harfiah berarti “keluarnya gamelan” — adalah momen yang menandai dimulainya seluruh rangkaian Sekaten. Pada malam 5 Mulud, dua perangkat Gamelan Sekati dikeluarkan dari penyimpanannya di Bangsal Trajumas Keraton dan dibawa dalam arak-arakan menuju Pagongan Masjid Gedhe.
Sebelum menuju Masjid Gedhe, kedua gamelan terlebih dahulu ditabuh di Bangsal Pancaniti (Plataran Kamandungan Lor) dari selepas Isya hingga sekitar pukul 22.30. Baru kemudian pada pukul 23.00, gamelan dikirabkan menuju Pagongan Masjid Gedhe untuk mulai ditabuh keesokan harinya. Momen kirab gamelan di malam hari ini adalah salah satu yang paling dinantikan — suara pelog yang mengalun di tengah keheningan malam menjadi penanda bahwa Sekaten resmi dimulai.
Prosesi ini biasanya didahului dengan pembagian udhik-udhik oleh Utusan Dalem — Putra dan Putri Dalem (putra-putri Sultan) — kepada masyarakat yang hadir. Udhik-udhik berupa campuran uang logam, kelopak bunga, beras, dan biji-bijian yang disebar ke hadapan penonton.
Selama enam hari (6–11 Mulud), Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Nagawilaga ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe — masing-masing di sisi selatan (Pagongan Kidul) dan utara (Pagongan Lor) masjid. Ini adalah periode paling panjang dan paling bisa disaksikan oleh wisatawan dalam rangkaian Sekaten.
Dari 68 gending dalam ragam Sekaten, 16 di antaranya secara rutin dilantunkan oleh Abdi Dalem Wiyaga: rambu, rangkung, andong-andong, lunggadung pel, yahume, rendeng, dhendhang subingah, orang-aring, ngajatun, lenggang rambon, salatun, atur-atur, gliyung, bayemtur, burung putih, dan supiyatun. Semuanya berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, doa keselamatan, dan harapan akan kesejahteraan rakyat. Selain gending-gending tersebut, gamelan juga mengiringi tembang macapat seperti Asmaradana, Pangkur, dan Sinom.
Sebelum gunungan bisa diarak dalam prosesi Grebeg Maulud, perlu ada proses pembuatan yang sendirinya merupakan ritual tersendiri. Numplak Wajik adalah prosesi penumpahan wajik (kue dari ketan) sebagai bahan dasar pembuatan gunungan — sebuah ritual yang menandai bahwa persiapan fisik gunungan telah dimulai.
Prosesi ini berlangsung di Panti Pareden, Kompleks Magangan dalam kawasan Keraton. Di sini, puluhan abdi dalem mulai menyusun bahan-bahan gunungan: beras kuning, hasil bumi, kue-kue tradisional, dan berbagai persembahan lainnya. Proses penyusunan gunungan membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus karena struktur gunungan harus bisa bertahan selama prosesi arak-arakan.
Malam menjelang Grebeg Maulud (11 Mulud malam) adalah salah satu momen paling intens dalam seluruh rangkaian Sekaten. Di Masjid Gedhe, Sri Sultan Hamengku Bawono X berkenan Miyos (hadir) untuk memimpin pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW — sebuah momen yang sangat personal dan sakral.
Di sini pula berlangsung prosesi Udhik-udhik — Sultan menyebarkan campuran uang logam, kelopak bunga, beras, dan biji-bijian kepada masyarakat yang memadati halaman Masjid Gedhe. Dimulai dari Pagongan Kidul (lokasi Kiai Gunturmadu), berlanjut ke Pagongan Lor (Kiai Nagawilaga), dan terakhir di dalam Masjid Gedhe. Ribuan warga berdesakan untuk mendapatkan uang logam atau segenggam beras sebagai berkah dari Sultan.
Setelah pembacaan riwayat Nabi selesai, kedua gamelan dikembalikan ke dalam Keraton dalam prosesi Kondur Gangsa — menandai berakhirnya periode tabuhan Sekaten. Sultan beserta pengiringnya menerima persembahan Sumping Melati dalam prosesi ini, yang melambangkan bahwa raja senantiasa mendengar aspirasi rakyatnya.
Inilah puncak dari seluruh rangkaian — dan yang paling banyak didatangi wisatawan. Pada pagi hari 12 Mulud, prajurit keraton dalam pakaian lengkap membentuk barisan di Bangsal Pagelaran. Gunungan-gunungan — yang telah disiapkan selama beberapa hari — dibawa keluar dan diarak dalam prosesi menuju Masjid Gedhe Kauman, Kompleks Kepatihan, dan Kadipaten Pakualaman untuk didoakan.
Arak-arakan ini diiringi suara gamelan, tembakan salvo, dan sorak ribuan warga yang memadati seluruh sisi jalan dari Keraton hingga Masjid Gedhe. Setelah didoakan di Masjid Gedhe, sebagian besar gunungan dibagikan — atau lebih tepat, diperebutkan — oleh warga. Momen berebut gunungan ini adalah yang paling ikonik dan paling sering diabadikan: ratusan tangan berebut menarik beras kuning, buah-buahan, dan berbagai isian gunungan yang diyakini membawa berkah.
Seluruh rangkaian ditutup dengan prosesi Bedhol Songsong — pencabutan payung (songsong) sebagai penanda kepulangan Sultan dari luar keraton. Di momen inilah digelar hiburan pementasan wayang kulit semalam suntuk di Tratag Gedhong Prabayeksa — sebuah penutup yang sangat Jawa: seni pertunjukan sebagai cara bersyukur, bukan hanya sebagai hiburan.
Prosesi ini tidak terbuka untuk umum secara fisik, namun Keraton Yogyakarta secara rutin menyiarkan pementasan wayang kulit ini secara langsung melalui kanal YouTube resmi Kraton Jogja — memungkinkan siapapun untuk menyaksikan penutup agung dari rangkaian Sekaten ini dari mana pun mereka berada.
Enam Jenis Gunungan Grebeg Maulud — dan Gunungan Brama yang Hanya Muncul Delapan Tahun Sekali
Setiap gunungan memiliki makna dan tujuan yang berbeda — dan satu di antaranya adalah fenomena yang tidak semua generasi sempat menyaksikannya
Dalam Grebeg Maulud biasa, Keraton Yogyakarta mengeluarkan lima jenis gunungan. Namun pada Tahun Dal — siklus khusus dalam penanggalan Jawa yang terjadi setiap delapan tahun sekali — ditambahkan satu gunungan langka yang disebut Gunungan Brama atau Gunungan Kutug. Tahun 2025 bertepatan dengan Tahun Dal, menjadikannya momen yang sangat istimewa bagi siapa pun yang hadir.
| Jenis Gunungan | Bentuk & Isi | Peruntukan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Gunungan Kakung | Berbentuk kerucut tinggi menyerupai gunung — isian beras, kacang panjang, cabai, dan hasil bumi lainnya | Untuk Rakyat | “Kakung” berarti laki-laki dalam bahasa Jawa. Melambangkan kekuatan dan keberkahan dari Sultan. Dibagikan kepada masyarakat setelah doa di Masjid Gedhe. |
| Gunungan Estri / Wadon | Berbentuk oval lebih pendek dari Kakung, dihiasi makanan dan kue tradisional | Untuk Rakyat | “Estri/Wadon” berarti perempuan. Melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Juga dibagikan kepada masyarakat setelah doa. |
| Gunungan Gepak | Bentuk lebih pipih/datar, berisi aneka jajan pasar dan makanan khas Jawa | Untuk Rakyat | Berisi lebih banyak jenis camilan dan makanan tradisional. Juga diperebutkan oleh masyarakat. |
| Gunungan Dharat | Berisi produk-produk daratan: sayuran, umbi-umbian, hasil ladang | Untuk Rakyat | Melambangkan kemakmuran dari hasil bumi daratan. Bagian dari simfoni gunungan yang merepresentasikan seluruh kekayaan alam yang dimiliki rakyat Yogyakarta. |
| Gunungan Pawuhan | Berisi barang-barang rumah tangga dan perlengkapan sehari-hari | Untuk Rakyat | Melambangkan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Turut dibagikan kepada masyarakat setelah didoakan. |
| 🔥 Gunungan Brama / Kutug | Berbentuk silinder seperti Gunungan Estri, dengan anglo (tungku kecil) di puncak yang membakar kemenyan — mengeluarkan asap tebal sepanjang prosesi | Khusus Sultan & Keluarga | LANGKA — hanya muncul setiap 8 tahun pada Tahun Dal. Tidak dibagikan kepada masyarakat — hanya didoakan di Masjid Gedhe, lalu dikembalikan ke Kedhaton untuk Sultan, keluarga, dan Sentana Dalem. Gunungan Brama terakhir hadir di 2025. |
Selain Gunungan Brama, ada satu prosesi langka lagi yang hanya terjadi pada Tahun Dal: Jejak Banon. Usai mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe, Sri Sultan tidak keluar melalui pintu utama seperti biasanya. Beliau keluar melalui sisi selatan masjid, dengan menjejakkan kaki di tumpukan bata (banon) melalui pintu butulan yang lebih kecil.
Prosesi ini mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi pada masa Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I): ketika situasi politik Mataram sedang tidak kondusif dan ketegangan memuncak, sang Pangeran memilih untuk tidak meladeni konfrontasi dengan keluar dari Masjid Gedhe melalui sisi selatan — bahkan dengan menembus benteng — sebagai tindakan bijak menghindari pertumpahan darah.
Lima Abad Sekaten — dari Strategi Dakwah Wali Sanga hingga Hajad Dalem Keraton Yogyakarta
Untuk memahami mengapa Sekaten begitu penting bagi Yogyakarta, kita perlu mundur ke abad ke-15 dan ke-16, ketika Islam pertama kali menyebar ke Pulau Jawa. Para Wali Sanga — sembilan wali yang menjadi arsitek islamisasi Jawa — menghadapi tantangan unik: bagaimana menyebarkan ajaran agama baru kepada masyarakat yang sudah sangat terjalin erat dengan tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal yang sudah berumur berabad-abad.
Solusinya bukan konfrontasi, melainkan akulturasi. Gamelan — instrumen yang sangat dicintai masyarakat Jawa — digunakan sebagai media dakwah. Tabuhan gamelan menarik orang untuk berkumpul; setelah berkumpul, mereka mendengar cerita-cerita tentang Nabi dan ajaran Islam yang disajikan dalam bahasa dan bentuk yang familiar. Inilah asal muasal Sekaten: bukan sebuah perayaan yang dirancang dari awal sebagai festival, melainkan strategi dakwah yang kemudian menjadi tradisi.
Ketika Kesultanan Yogyakarta berdiri pada 1755 melalui Perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono I membawa tradisi Sekaten dari Mataram dan menjadikannya salah satu Hajad Dalem — kewajiban sakral Sultan yang tidak boleh ditinggalkan. Sejak saat itu, Sekaten dan Grebeg Maulud berlangsung setiap tahun tanpa terputus, melewati berbagai periode sejarah yang bergolak, dan masih berlangsung hari ini dalam format yang pada dasarnya tidak banyak berubah dari versi aslinya.
Tips Lengkap Menyaksikan Sekaten & Grebeg Maulud sebagai Wisatawan
Dengan persiapan yang tepat, momen yang sudah ratusan tahun ini bisa menjadi kenangan perjalanan terbaik di Yogyakarta
- Datang sebelum pukul 07.00 untuk Grebeg Maulud — prosesi dimulai pukul 08.00 dan area sudah sangat padat pukul 07.30
- Ikuti tabuhan gamelan Sekaten di sesi malam (20.00–23.00) — atmosfernya paling khidmat dan paling sedikit pengunjung
- Kenakan pakaian yang sopan dan nyaman — ini adalah prosesi keagamaan di area masjid
- Bawa air minum dan camilan sendiri — area bisa sangat padat dan pedagang kaki lima tersebar di luar area utama
- Pantau jadwal di Instagram @kratonjogja atau website kratonjogja.id untuk konfirmasi tanggal yang akurat setiap tahun
- Jika datang saat Tahun Dal, jangan lewatkan Gunungan Brama dan prosesi Jejak Banon — langka sekali per 8 tahun
- Untuk wisatawan dari luar kota: pastikan booking hotel lebih awal karena Yogyakarta sangat penuh saat Sekaten
- Jangan membawa anak kecil ke dalam kerumunan berebut gunungan — area tersebut sangat padat dan berdesakan
- Jangan menggunakan drone tanpa izin resmi — Keraton secara tegas melarang drone saat prosesi Grebeg berlangsung
- Jangan memakai pakaian terlalu terbuka — area prosesi mencakup masjid dan area keraton yang menuntut kesopanan berpakaian
- Jangan datang dengan kendaraan pribadi jika tidak tahu parkir — kawasan Alun-alun dan sekitar Masjid Gedhe sangat macet saat Grebeg
- Jangan berharap mendapatkan gunungan tanpa berjuang keras — ribuan orang berebut secara simultan dalam hitungan menit
- Jangan lupa bahwa beberapa prosesi tertutup untuk umum — hormati pembatasan area dan tidak memaksa masuk
Destinasi Budaya Sekitar Keraton yang Bisa Dikunjungi dalam Satu Hari
Area sekitar Keraton Yogyakarta adalah kawasan wisata budaya paling padat di kota ini — semuanya bisa dijangkau jalan kaki
Jelajahi Yogyakarta Bersama Shakran Tour — Paket Wisata Budaya yang Dirancang untuk Pengalaman Autentik
Dari wisata budaya Keraton hingga alam Merapi dan Prambanan — Shakran Tour menyediakan paket yang tepat untuk setiap kebutuhan
Menyaksikan Sekaten dan Grebeg Maulud adalah pengalaman yang jauh lebih berkesan jika didampingi pemandu yang memahami konteks budaya dan sejarah di balik setiap prosesi. Shakran Tour, dengan pengalaman memandu wisatawan ke destinasi budaya Yogyakarta sejak 2016 dan pemandu berlisensi BNSP, menyediakan paket yang dirancang khusus untuk wisatawan yang ingin lebih dari sekadar menyaksikan — tapi benar-benar memahami apa yang mereka saksikan.
- Tur Keraton Ngayogyakarta dengan pemandu berlisensi BNSP
- Kunjungan Museum Sonobudoyo + pertunjukan wayang kulit
- Tamansari Water Castle & kawasan Kauman
- Candi Prambanan sore hari + Sendratari Ramayana (opsional)
- Kuliner malam di kawasan Malioboro
- Transportasi AC door-to-door, all-in tanpa biaya tersembunyi
- Briefing sejarah dan konteks Sekaten sebelum acara
- Menyaksikan tabuhan Gamelan Kiai Gunturmadu & Nagawilaga di Pagongan
- Panduan posisi terbaik untuk menyaksikan prosesi Grebeg Maulud
- Kunjungan Masjid Gedhe Kauman & lingkungan Kauman
- Malam: tabuhan gamelan sesi malam (20.00–23.00) dan kuliner sekitar Alun-alun
- Transportasi & pemandu, tersedia 1 atau 2 hari sesuai kebutuhan
- Hari 1: Borobudur sunrise (opsional) → Keraton → Tamansari → Malioboro malam
- Hari 2: Lava Tour Merapi pagi → Museum Ullen Sentalu → Prambanan
- Hotel bintang 2–3 di pusat kota Yogyakarta (standar check-in 14.00)
- Sarapan hotel, makan siang di warung lokal pilihan Shakran Tour
- Transportasi AC + pemandu + tiket masuk destinasi
- Itinerary custom 100% sesuai kebutuhan dan anggaran rombongan
- Tersedia untuk rombongan pelajar (edu trip), keluarga besar, dan corporate
- Armada bus pariwisata AC dari Yogyakarta atau jemput dari kota asal
- Pemandu wisata BNSP + tour leader khusus rombongan
- Opsi kombinasi: wisata budaya Keraton + alam Merapi + kuliner + belanja
- Harga spesial untuk rombongan di atas 20 pax
Rencanakan Perjalanan Budaya Terbaik ke Yogyakarta Bersama Shakran Tour
Apakah Anda ingin menyaksikan Sekaten dan Grebeg Maulud, atau sekadar menjelajahi kekayaan budaya Yogyakarta dari Keraton hingga Prambanan dan Borobudur — Shakran Tour siap merancang perjalanan yang tidak hanya mengunjungi tempat, tapi memahami jiwa di baliknya.
- Pemandu wisata berlisensi BNSP dengan keahlian budaya Yogyakarta
- Paket private, grup, sekolah, keluarga, dan corporate tersedia
- Paket khusus Sekaten & Grebeg Maulud saat musim perayaan
- Itinerary custom sesuai minat, durasi, dan anggaran
- Transportasi AC, akomodasi, dan makan sudah termasuk dalam paket
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Sekaten & Grebeg Maulud Yogyakarta
Warisan yang Tidak Perlu Dicari Jauh — Karena Ia Masih Hidup di Sini
Di dunia yang semakin banyak menawarkan simulasi dan replikasi, Sekaten dan Grebeg Maulud adalah sesuatu yang langka: tradisi yang masih hidup bukan sebagai museum, bukan sebagai atraksi yang dipentaskan untuk wisatawan, melainkan sebagai kebutuhan — kebutuhan spiritual komunitas yang masih percaya bahwa merayakan kelahiran Nabi dengan cara yang diwarisi leluhur adalah kewajiban yang tidak kalah penting dari ibadah sehari-hari.
Itulah yang membuat menyaksikan Sekaten berbeda dari menonton pertunjukan: kamu tidak sedang menjadi penonton dari luar, kamu sedang diajak masuk ke dalam sesuatu yang sudah berlangsung jauh sebelum kakek buyutmu lahir dan akan terus berlangsung jauh setelah kita semua pergi. Dan untuk beberapa jam dalam satu pagi di bulan Rabiul Awal, kamu menjadi bagian dari kesinambungan itu.



