Sekaten & Grebeg Maulud — Ketika Syiar Islam Berpelukan dengan Keindahan Budaya Jawa

Yogyakarta bukan sekadar kota dengan banyak destinasi wisata. Ia adalah kota yang masih hidup di dalam tradisinya — sebuah kondisi yang semakin langka di dunia modern dan justru menjadi daya tariknya yang paling tidak bisa ditiru. Di antara semua tradisi yang masih berlangsung di kota ini, dua yang paling ditunggu setiap tahun adalah Sekaten dan Grebeg Maulud.

Kedua perayaan ini adalah satu rangkaian yang tidak terpisahkan — keduanya termasuk dalam apa yang Keraton Yogyakarta sebut sebagai Hajad Dalem, kewajiban Sultan yang bersifat sakral dan dilaksanakan untuk keselamatan dan kemakmuran rakyatnya. Sekaten adalah sepekan tabuhan gamelan pusaka sebagai syiar dan peringatan; Grebeg Maulud adalah puncak prosesi di mana gunungan — lambang kemakmuran dari Sultan untuk rakyat — diarak dan diperebutkan masyarakat.

Yang membuat keduanya istimewa bukan hanya kemeriahannya, tapi kedalaman maknanya: ini bukan sekadar festival, melainkan kontinuitas yang tidak terputus selama lebih dari 500 tahun — sejak era Wali Sanga menggunakan gamelan sebagai alat syiar Islam di tanah Jawa hingga hari ini, di mana ribuan warga dan wisatawan masih rela berdiri berjam-jam di alun-alun untuk satu momen yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama.

📋 Info Cepat Sekaten & Grebeg Maulud
Nama resmiHajad Dalem Sekaten & Garebeg Mulud
PenyelenggaraKaraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Waktu Sekaten5–12 Mulud (Rabiul Awal) setiap tahun
Puncak acara12 Mulud — Grebeg Maulud, pukul 08.00–11.00
Lokasi utamaMasjid Gedhe Kauman & Alun-alun Utara Keraton
GamelanKK Gunturmadu (Pagongan Kidul) & KK Nagawilaga (Pagongan Lor)
Jadwal tabuh08.00–11.00 · 14.00–17.00 · 20.00–23.00 WIB
Grebeg 2025Jumat, 5 September 2025 (12 Mulud Dal 1959)
Tiket masukGratis — terbuka untuk umum
Live streamingInstagram @kratonjogja · YouTube Kraton Jogja
Prosesi Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta — prajurit berseragam membawa gunungan melintasi kerumunan di Alun-alun Utara
Prosesi puncak Grebeg Maulud — prajurit keraton berpakaian lengkap mengawal gunungan yang diarak dari Bangsal Pagelaran menuju Masjid Gedhe Kauman, diiringi sorak kerumunan yang menunggu momen berebut gunungan
Gunungan dalam prosesi Grebeg Maulud Yogyakarta — struktur menyerupai gunung dari bahan pangan
Gunungan — simbol kemakmuran dan berbagi dari Sultan kepada rakyat, terbuat dari beras, hasil bumi, dan aneka pangan — sesaat sebelum diperebutkan oleh ribuan warga yang meyakininya membawa berkah
Perangkat gamelan Jawa — instrumen perkusi logam dalam laras pelog yang menjadi media syiar Islam di tanah Jawa
Perangkat Gamelan Jawa — instrumen perkusi logam berlaras pelog yang menjadi medium syiar Islam sejak era Wali Sanga. Dua pusaka Sekaten hanya ditabuh setahun sekali, namun dirawat dan disiram setiap bulan oleh Abdi Dalem Keraton

“Sekaten merupakan salah satu hajad dalem penting, bukan hanya perayaan budaya — tapi juga sarana syiar Islam sejak zaman Wali Sanga. Tradisi ini selalu ditunggu masyarakat.”

— KRT Kusumonegoro, Koordinator Prosesi Garebeg Mulud Keraton Yogyakarta, 2025

Kanjeng Kiai Gunturmadu & Kanjeng Kiai Nagawilaga — Dua Pusaka yang Hanya Berbicara Setahun Sekali

Di balik keindahan tabuhan gamelan Sekaten, tersimpan sejarah panjang perpecahan dan rekonsiliasi kerajaan Mataram

Nama “Sekaten” sendiri berasal dari kata “Sekati” — nama kolektif untuk dua perangkat gamelan pusaka milik Kasultanan Yogyakarta yang hanya ditabuh satu kali dalam setahun: Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Keduanya berlaras pelog dan menyimpan sejarah yang tidak kalah dalam dari bunyi yang mereka hasilkan.

Kiai Gunturmadu adalah yang lebih tua — dibuat pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram. Ketika Perjanjian Giyanti tahun 1755 memecah Mataram menjadi dua — Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta — gamelan-gamelan pusaka pun ikut dibagi. Kiai Gunturmadu diserahkan kepada Kasultanan Yogyakarta, sementara saudara gamelannya, Kiai Guntursari, dibawa ke Surakarta.

Untuk mengembalikan kelengkapan yang hilang, Sri Sultan Hamengku Buwono I kemudian memerintahkan pembuatan putran (duplikasi) dari Kiai Guntursari — lahirlah Kiai Nagawilaga. Karena perbedaan usia ini, dalam setiap prosesi Sekaten, Kiai Gunturmadu yang lebih tua selalu ditempatkan di Pagongan Kidul (sisi selatan, di sisi kanan Sultan), sementara Kiai Nagawilaga di Pagongan Lor (sisi utara).

📅 Jadwal Tabuhan Gamelan Sekaten: Setelah dikeluarkan dari Keraton dalam prosesi Miyos Gangsa (5 Mulud malam), kedua gamelan ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe dari tanggal 6 hingga 11 Mulud — tiga kali sehari: pagi 08.00–11.00, siang 14.00–17.00, dan malam 20.00–23.00 WIB. Gamelan tidak ditabuh pada Kamis petang hingga selepas salat Jumat. Terdapat 68 gending dalam ragam Sekaten; 16 di antaranya secara rutin dilantunkan selama prosesi oleh Abdi Dalem Wiyaga Kawedanan Kridomardawa — termasuk rambu, rangkung, yahume, salatun, dan supiyatun, yang semuanya berisi puji-pujian kepada Nabi dan doa keselamatan.
Perangkat gamelan Jawa lengkap — instrumen logam perkusi dalam susunan tradisional
Perangkat gamelan Jawa dalam susunan lengkap — instrumen logam (gender, bonang, kenong, kempul, gong) yang dalam Sekaten dimainkan dalam laras pelog, menghasilkan nada yang berbeda dari gamelan biasa
Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat — pusat kebudayaan dan tradisi di Yogyakarta
Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat — dari sinilah prosesi Sekaten dan Grebeg Maulud bermula dan berakhir setiap tahun, dalam sebuah kontinuitas yang tidak pernah terputus sejak abad ke-18

Tujuh Prosesi Utama Hajad Dalem Sekaten — dari Miyos Gangsa hingga Pementasan Wayang Semalam Suntuk

Setiap prosesi memiliki makna dan posisi yang tepat dalam keseluruhan ritual — tidak ada yang bisa dipindahkan atau dipertukarkan

🥁
Miyos Gangsa — “Keluarnya Gamelan” sebagai Tanda Dimulainya Sekaten
5 Mulud malam · Bangsal Pancaniti (Plataran Kamandungan Lor) — terbuka untuk umum
Pembuka

Prosesi Miyos Gangsa — secara harfiah berarti “keluarnya gamelan” — adalah momen yang menandai dimulainya seluruh rangkaian Sekaten. Pada malam 5 Mulud, dua perangkat Gamelan Sekati dikeluarkan dari penyimpanannya di Bangsal Trajumas Keraton dan dibawa dalam arak-arakan menuju Pagongan Masjid Gedhe.

Sebelum menuju Masjid Gedhe, kedua gamelan terlebih dahulu ditabuh di Bangsal Pancaniti (Plataran Kamandungan Lor) dari selepas Isya hingga sekitar pukul 22.30. Baru kemudian pada pukul 23.00, gamelan dikirabkan menuju Pagongan Masjid Gedhe untuk mulai ditabuh keesokan harinya. Momen kirab gamelan di malam hari ini adalah salah satu yang paling dinantikan — suara pelog yang mengalun di tengah keheningan malam menjadi penanda bahwa Sekaten resmi dimulai.

Prosesi ini biasanya didahului dengan pembagian udhik-udhik oleh Utusan Dalem — Putra dan Putri Dalem (putra-putri Sultan) — kepada masyarakat yang hadir. Udhik-udhik berupa campuran uang logam, kelopak bunga, beras, dan biji-bijian yang disebar ke hadapan penonton.

🎶
Tabuhan Gamelan Sekaten — Enam Hari Tiga Sesi, 68 Gending Pujian Nabi
6–11 Mulud · Pagongan Masjid Gedhe Kauman — sepenuhnya terbuka untuk umum
6 Hari

Selama enam hari (6–11 Mulud), Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Nagawilaga ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe — masing-masing di sisi selatan (Pagongan Kidul) dan utara (Pagongan Lor) masjid. Ini adalah periode paling panjang dan paling bisa disaksikan oleh wisatawan dalam rangkaian Sekaten.

Dari 68 gending dalam ragam Sekaten, 16 di antaranya secara rutin dilantunkan oleh Abdi Dalem Wiyaga: rambu, rangkung, andong-andong, lunggadung pel, yahume, rendeng, dhendhang subingah, orang-aring, ngajatun, lenggang rambon, salatun, atur-atur, gliyung, bayemtur, burung putih, dan supiyatun. Semuanya berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, doa keselamatan, dan harapan akan kesejahteraan rakyat. Selain gending-gending tersebut, gamelan juga mengiringi tembang macapat seperti Asmaradana, Pangkur, dan Sinom.

🎵 Pengalaman Mendengarkan Gamelan Sekaten: Suara gamelan Sekaten berbeda dari gamelan biasa — lebih keras, lebih dramatis, dengan komposisi instrumen yang menonjolkan gong dan kenong besar. Para penikmat musik tradisional Jawa menyebut bunyi Sekaten sebagai yang paling “berat” dan paling spiritual dari semua jenis gamelan. Duduk di dekat Pagongan saat tabuhan malam (20.00–23.00) dalam suasana Masjid Gedhe yang temaram adalah salah satu pengalaman sensoris terkuat yang bisa ditawarkan Yogyakarta.
🍚
Numplak Wajik — Upacara Pembuatan Gunungan yang Memulai Persiapan Puncak
Sekitar 9–10 Mulud · Panti Pareden, Kompleks Magangan — prosesi persiapan
Persiapan

Sebelum gunungan bisa diarak dalam prosesi Grebeg Maulud, perlu ada proses pembuatan yang sendirinya merupakan ritual tersendiri. Numplak Wajik adalah prosesi penumpahan wajik (kue dari ketan) sebagai bahan dasar pembuatan gunungan — sebuah ritual yang menandai bahwa persiapan fisik gunungan telah dimulai.

Prosesi ini berlangsung di Panti Pareden, Kompleks Magangan dalam kawasan Keraton. Di sini, puluhan abdi dalem mulai menyusun bahan-bahan gunungan: beras kuning, hasil bumi, kue-kue tradisional, dan berbagai persembahan lainnya. Proses penyusunan gunungan membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus karena struktur gunungan harus bisa bertahan selama prosesi arak-arakan.

💰
Kondur Gangsa & Udhik-udhik — Saat Sultan Menyebarkan Berkah kepada Rakyatnya
11 Mulud malam · Masjid Gedhe Kauman — terbuka untuk umum
Momen Paling Ditunggu

Malam menjelang Grebeg Maulud (11 Mulud malam) adalah salah satu momen paling intens dalam seluruh rangkaian Sekaten. Di Masjid Gedhe, Sri Sultan Hamengku Bawono X berkenan Miyos (hadir) untuk memimpin pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW — sebuah momen yang sangat personal dan sakral.

Di sini pula berlangsung prosesi Udhik-udhik — Sultan menyebarkan campuran uang logam, kelopak bunga, beras, dan biji-bijian kepada masyarakat yang memadati halaman Masjid Gedhe. Dimulai dari Pagongan Kidul (lokasi Kiai Gunturmadu), berlanjut ke Pagongan Lor (Kiai Nagawilaga), dan terakhir di dalam Masjid Gedhe. Ribuan warga berdesakan untuk mendapatkan uang logam atau segenggam beras sebagai berkah dari Sultan.

Setelah pembacaan riwayat Nabi selesai, kedua gamelan dikembalikan ke dalam Keraton dalam prosesi Kondur Gangsa — menandai berakhirnya periode tabuhan Sekaten. Sultan beserta pengiringnya menerima persembahan Sumping Melati dalam prosesi ini, yang melambangkan bahwa raja senantiasa mendengar aspirasi rakyatnya.

💫 Makna Udhik-udhik: Secara simbolis, Udhik-udhik adalah manifestasi fisik dari konsep “raja berbagi kemakmuran kepada rakyat.” Bagi warga Yogyakarta, mendapatkan uang logam atau biji-bijian dari Udhik-udhik bukan hanya soal nilainya secara materi — ini adalah berkah yang dipercaya membawa keselamatan dan keberuntungan sepanjang tahun.
🏔️
Hajad Dalem Garebeg Mulud — Puncak Prosesi yang Memenuhi Alun-alun dengan Ribuan Orang
12 Mulud · 08.00–11.00 WIB · Bangsal Pagelaran hingga Masjid Gedhe — terbuka penuh untuk umum
Puncak Acara

Inilah puncak dari seluruh rangkaian — dan yang paling banyak didatangi wisatawan. Pada pagi hari 12 Mulud, prajurit keraton dalam pakaian lengkap membentuk barisan di Bangsal Pagelaran. Gunungan-gunungan — yang telah disiapkan selama beberapa hari — dibawa keluar dan diarak dalam prosesi menuju Masjid Gedhe Kauman, Kompleks Kepatihan, dan Kadipaten Pakualaman untuk didoakan.

Arak-arakan ini diiringi suara gamelan, tembakan salvo, dan sorak ribuan warga yang memadati seluruh sisi jalan dari Keraton hingga Masjid Gedhe. Setelah didoakan di Masjid Gedhe, sebagian besar gunungan dibagikan — atau lebih tepat, diperebutkan — oleh warga. Momen berebut gunungan ini adalah yang paling ikonik dan paling sering diabadikan: ratusan tangan berebut menarik beras kuning, buah-buahan, dan berbagai isian gunungan yang diyakini membawa berkah.

📍 Tips Menonton Grebeg Maulud: Datang paling lambat pukul 07.00 untuk mendapatkan posisi yang baik. Lokasi terbaik: sisi kanan atau kiri jalur prosesi dari Bangsal Pagelaran menuju Masjid Gedhe, atau di halaman Masjid Gedhe untuk menyaksikan momen berebut gunungan. Area sekitar sangat ramai — amankan barang bawaan dan jangan bawa anak kecil terlalu dekat ke pusat kerumunan berebut gunungan.
🎭
Bedhol Songsong — Pementasan Wayang Kulit Semalam Suntuk sebagai Penutup Agung
12 Mulud malam, pukul 20.00 WIB · Tratag Gedhong Prabayeksa — live streaming YouTube Kraton Jogja
Malam Penutup

Seluruh rangkaian ditutup dengan prosesi Bedhol Songsong — pencabutan payung (songsong) sebagai penanda kepulangan Sultan dari luar keraton. Di momen inilah digelar hiburan pementasan wayang kulit semalam suntuk di Tratag Gedhong Prabayeksa — sebuah penutup yang sangat Jawa: seni pertunjukan sebagai cara bersyukur, bukan hanya sebagai hiburan.

Prosesi ini tidak terbuka untuk umum secara fisik, namun Keraton Yogyakarta secara rutin menyiarkan pementasan wayang kulit ini secara langsung melalui kanal YouTube resmi Kraton Jogja — memungkinkan siapapun untuk menyaksikan penutup agung dari rangkaian Sekaten ini dari mana pun mereka berada.


Enam Jenis Gunungan Grebeg Maulud — dan Gunungan Brama yang Hanya Muncul Delapan Tahun Sekali

Setiap gunungan memiliki makna dan tujuan yang berbeda — dan satu di antaranya adalah fenomena yang tidak semua generasi sempat menyaksikannya

Dalam Grebeg Maulud biasa, Keraton Yogyakarta mengeluarkan lima jenis gunungan. Namun pada Tahun Dal — siklus khusus dalam penanggalan Jawa yang terjadi setiap delapan tahun sekali — ditambahkan satu gunungan langka yang disebut Gunungan Brama atau Gunungan Kutug. Tahun 2025 bertepatan dengan Tahun Dal, menjadikannya momen yang sangat istimewa bagi siapa pun yang hadir.

Jenis Gunungan Bentuk & Isi Peruntukan Keterangan
Gunungan Kakung Berbentuk kerucut tinggi menyerupai gunung — isian beras, kacang panjang, cabai, dan hasil bumi lainnya Untuk Rakyat “Kakung” berarti laki-laki dalam bahasa Jawa. Melambangkan kekuatan dan keberkahan dari Sultan. Dibagikan kepada masyarakat setelah doa di Masjid Gedhe.
Gunungan Estri / Wadon Berbentuk oval lebih pendek dari Kakung, dihiasi makanan dan kue tradisional Untuk Rakyat “Estri/Wadon” berarti perempuan. Melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Juga dibagikan kepada masyarakat setelah doa.
Gunungan Gepak Bentuk lebih pipih/datar, berisi aneka jajan pasar dan makanan khas Jawa Untuk Rakyat Berisi lebih banyak jenis camilan dan makanan tradisional. Juga diperebutkan oleh masyarakat.
Gunungan Dharat Berisi produk-produk daratan: sayuran, umbi-umbian, hasil ladang Untuk Rakyat Melambangkan kemakmuran dari hasil bumi daratan. Bagian dari simfoni gunungan yang merepresentasikan seluruh kekayaan alam yang dimiliki rakyat Yogyakarta.
Gunungan Pawuhan Berisi barang-barang rumah tangga dan perlengkapan sehari-hari Untuk Rakyat Melambangkan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Turut dibagikan kepada masyarakat setelah didoakan.
🔥 Gunungan Brama / Kutug Berbentuk silinder seperti Gunungan Estri, dengan anglo (tungku kecil) di puncak yang membakar kemenyan — mengeluarkan asap tebal sepanjang prosesi Khusus Sultan & Keluarga LANGKA — hanya muncul setiap 8 tahun pada Tahun Dal. Tidak dibagikan kepada masyarakat — hanya didoakan di Masjid Gedhe, lalu dikembalikan ke Kedhaton untuk Sultan, keluarga, dan Sentana Dalem. Gunungan Brama terakhir hadir di 2025.
🔥 Gunungan Brama — Fenomena yang Hanya 3–4 Generasi Sempat Menyaksikannya: Gunungan Brama atau Gunungan Kutug hanya dikeluarkan pada Garebeg Mulud Tahun Dal — siklus delapan tahunan dalam penanggalan Jawa. Jika seseorang berusia 80 tahun, ia mungkin hanya sempat menyaksikannya 8–10 kali seumur hidup. Bentuknya unik: mirip Gunungan Estri, namun di bagian puncak terdapat lubang untuk menempatkan anglo berisi arang membara yang digunakan membakar kemenyan, sehingga gunungan ini mengeluarkan asap tebal sepanjang prosesi. Tahun 2025 adalah satu dari sedikit kesempatan langka untuk menyaksikan Gunungan Brama secara langsung.
🧱
Jejak Banon — Prosesi Langka yang Mengenang Keberanian Sultan Mangkubumi
Hanya pada Tahun Dal (setiap 8 tahun) · Pintu Butulan Selatan Masjid Gedhe
Sekali per 8 Tahun

Selain Gunungan Brama, ada satu prosesi langka lagi yang hanya terjadi pada Tahun Dal: Jejak Banon. Usai mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe, Sri Sultan tidak keluar melalui pintu utama seperti biasanya. Beliau keluar melalui sisi selatan masjid, dengan menjejakkan kaki di tumpukan bata (banon) melalui pintu butulan yang lebih kecil.

Prosesi ini mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi pada masa Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I): ketika situasi politik Mataram sedang tidak kondusif dan ketegangan memuncak, sang Pangeran memilih untuk tidak meladeni konfrontasi dengan keluar dari Masjid Gedhe melalui sisi selatan — bahkan dengan menembus benteng — sebagai tindakan bijak menghindari pertumpahan darah.

🧱 Makna Jejak Banon: Di balik gesturnya yang sederhana — menjejakkan kaki di tumpukan bata — tersimpan pesan yang dalam: bahwa kekuatan sejati bukan selalu pada konfrontasi, tapi kadang pada kearifan untuk memilih jalan yang tidak terduga. Sebuah pelajaran kepemimpinan yang diwariskan melalui ritual fisik, bukan hanya kata-kata.

Lima Abad Sekaten — dari Strategi Dakwah Wali Sanga hingga Hajad Dalem Keraton Yogyakarta

Untuk memahami mengapa Sekaten begitu penting bagi Yogyakarta, kita perlu mundur ke abad ke-15 dan ke-16, ketika Islam pertama kali menyebar ke Pulau Jawa. Para Wali Sanga — sembilan wali yang menjadi arsitek islamisasi Jawa — menghadapi tantangan unik: bagaimana menyebarkan ajaran agama baru kepada masyarakat yang sudah sangat terjalin erat dengan tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal yang sudah berumur berabad-abad.

Solusinya bukan konfrontasi, melainkan akulturasi. Gamelan — instrumen yang sangat dicintai masyarakat Jawa — digunakan sebagai media dakwah. Tabuhan gamelan menarik orang untuk berkumpul; setelah berkumpul, mereka mendengar cerita-cerita tentang Nabi dan ajaran Islam yang disajikan dalam bahasa dan bentuk yang familiar. Inilah asal muasal Sekaten: bukan sebuah perayaan yang dirancang dari awal sebagai festival, melainkan strategi dakwah yang kemudian menjadi tradisi.

Ketika Kesultanan Yogyakarta berdiri pada 1755 melalui Perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono I membawa tradisi Sekaten dari Mataram dan menjadikannya salah satu Hajad Dalem — kewajiban sakral Sultan yang tidak boleh ditinggalkan. Sejak saat itu, Sekaten dan Grebeg Maulud berlangsung setiap tahun tanpa terputus, melewati berbagai periode sejarah yang bergolak, dan masih berlangsung hari ini dalam format yang pada dasarnya tidak banyak berubah dari versi aslinya.

Bangunan-bangunan bersejarah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat — pusat kebudayaan dan tradisi yang menjaga warisan lima abad
Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat — sebuah kota di dalam kota yang masih aktif berfungsi sebagai pusat kebudayaan Jawa. Dari sinilah seluruh tradisi Hajad Dalem digerakkan dan dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi selama lebih dari 265 tahun
📖 Etimologi “Sekaten”: Ada beberapa teori tentang asal kata “Sekaten.” Yang paling populer adalah bahwa kata ini berasal dari syahadatain (dua kalimat syahadat dalam Islam) — karena tradisi ini bermula sebagai sarana mengajak masyarakat memeluk dan memperkuat keyakinan Islam melalui dua kalimat syahadat. Teori lain menyebut berasal dari kata sekati yang merujuk pada nama gamelan sakral tersebut. Terlepas dari mana asalnya, kata ini sudah mengakar dalam kosakata budaya Jawa selama berabad-abad.

Tips Lengkap Menyaksikan Sekaten & Grebeg Maulud sebagai Wisatawan

Dengan persiapan yang tepat, momen yang sudah ratusan tahun ini bisa menjadi kenangan perjalanan terbaik di Yogyakarta

✓ Wajib Dilakukan
  • Datang sebelum pukul 07.00 untuk Grebeg Maulud — prosesi dimulai pukul 08.00 dan area sudah sangat padat pukul 07.30
  • Ikuti tabuhan gamelan Sekaten di sesi malam (20.00–23.00) — atmosfernya paling khidmat dan paling sedikit pengunjung
  • Kenakan pakaian yang sopan dan nyaman — ini adalah prosesi keagamaan di area masjid
  • Bawa air minum dan camilan sendiri — area bisa sangat padat dan pedagang kaki lima tersebar di luar area utama
  • Pantau jadwal di Instagram @kratonjogja atau website kratonjogja.id untuk konfirmasi tanggal yang akurat setiap tahun
  • Jika datang saat Tahun Dal, jangan lewatkan Gunungan Brama dan prosesi Jejak Banon — langka sekali per 8 tahun
  • Untuk wisatawan dari luar kota: pastikan booking hotel lebih awal karena Yogyakarta sangat penuh saat Sekaten
✗ Hindari
  • Jangan membawa anak kecil ke dalam kerumunan berebut gunungan — area tersebut sangat padat dan berdesakan
  • Jangan menggunakan drone tanpa izin resmi — Keraton secara tegas melarang drone saat prosesi Grebeg berlangsung
  • Jangan memakai pakaian terlalu terbuka — area prosesi mencakup masjid dan area keraton yang menuntut kesopanan berpakaian
  • Jangan datang dengan kendaraan pribadi jika tidak tahu parkir — kawasan Alun-alun dan sekitar Masjid Gedhe sangat macet saat Grebeg
  • Jangan berharap mendapatkan gunungan tanpa berjuang keras — ribuan orang berebut secara simultan dalam hitungan menit
  • Jangan lupa bahwa beberapa prosesi tertutup untuk umum — hormati pembatasan area dan tidak memaksa masuk
📅 Cara Menghitung Tanggal Sekaten Setiap Tahun: Karena menggunakan kalender Jawa/Hijriah yang bergeser sekitar 10–11 hari setiap tahun Masehi, tanggal Sekaten selalu berubah. Sekaten dimulai 5 Mulud (Rabiul Awal) dan puncaknya (Grebeg) pada 12 Mulud. Untuk tahun mendatang, cek situs resmi Keraton Yogyakarta di kratonjogja.id atau Instagram @kratonjogja yang selalu mengumumkan jadwal resmi beberapa minggu sebelum acara. Shakran Tour juga selalu memperbarui informasi jadwal ini untuk wisatawan yang memesan paket wisata budaya Yogyakarta.

Destinasi Budaya Sekitar Keraton yang Bisa Dikunjungi dalam Satu Hari

Area sekitar Keraton Yogyakarta adalah kawasan wisata budaya paling padat di kota ini — semuanya bisa dijangkau jalan kaki

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta
Area pusat · 0 km
Istana Sultan yang masih aktif sebagai pusat pemerintahan adat. Buka untuk kunjungan wisatawan di luar hari-hari prosesi tertutup. Museum keraton menyimpan koleksi benda pusaka dan sejarah kesultanan.
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
Masjid Gedhe Kauman
Masjid Gedhe Kauman
5 menit jalan kaki dari Keraton
Masjid keraton tertua di Yogyakarta, dibangun pada 1773. Inilah pusat seluruh prosesi Sekaten — tempat kedua Pagongan gamelan berdiri dan tempat gunungan didoakan saat Grebeg Maulud.
Museum Sonobudoyo Yogyakarta
Museum Sonobudoyo
Museum Sonobudoyo
10 menit jalan kaki dari Keraton
Museum arkeologi dan etnografi terlengkap di DIY. Koleksi wayang, keris, batik, gamelan, dan berbagai artefak budaya Jawa tersimpan di sini. Pertunjukan wayang kulit malam hari tersedia setiap malam.
Alun-alun Utara Yogyakarta dengan pohon beringin kembar
Alun-alun Utara Yogyakarta
Alun-alun Utara
Tepat di depan Keraton
Lapangan besar di depan Keraton dengan dua pohon beringin kembar yang legendaris. Pada saat Sekaten, di sini dulu berdiri pasar malam Sekaten yang kini sudah tidak ada. Masih menjadi pusat berkumpul warga saat Grebeg.
Tamansari Water Castle Yogyakarta
Tamansari
Tamansari
10 menit jalan kaki dari Keraton
Komplek taman air dan istana peristirahatan Sultan yang dibangun 1758. Arsitektur unik Jawa-Portugis dengan kolam pemandian, terowongan bawah tanah, dan menara masjid bawah tanah yang sangat instagramable.
Kawasan Malioboro Yogyakarta
Jalan Malioboro
Jalan Malioboro
15 menit jalan kaki
Jalan ikonik Yogyakarta dengan deretan pedagang batik, kerajinan, dan kuliner. Saat Sekaten, suasana Malioboro jauh lebih meriah dari biasanya dengan banyak pedagang musiman. Sempurna sebagai penutup hari wisata budaya.

Jelajahi Yogyakarta Bersama Shakran Tour — Paket Wisata Budaya yang Dirancang untuk Pengalaman Autentik

Dari wisata budaya Keraton hingga alam Merapi dan Prambanan — Shakran Tour menyediakan paket yang tepat untuk setiap kebutuhan

Menyaksikan Sekaten dan Grebeg Maulud adalah pengalaman yang jauh lebih berkesan jika didampingi pemandu yang memahami konteks budaya dan sejarah di balik setiap prosesi. Shakran Tour, dengan pengalaman memandu wisatawan ke destinasi budaya Yogyakarta sejak 2016 dan pemandu berlisensi BNSP, menyediakan paket yang dirancang khusus untuk wisatawan yang ingin lebih dari sekadar menyaksikan — tapi benar-benar memahami apa yang mereka saksikan.

Shakran Tour · Private Trip
Yogyakarta Cultural Heritage Tour
Keraton · Tamansari · Prambanan · Sonobudoyo
  • Tur Keraton Ngayogyakarta dengan pemandu berlisensi BNSP
  • Kunjungan Museum Sonobudoyo + pertunjukan wayang kulit
  • Tamansari Water Castle & kawasan Kauman
  • Candi Prambanan sore hari + Sendratari Ramayana (opsional)
  • Kuliner malam di kawasan Malioboro
  • Transportasi AC door-to-door, all-in tanpa biaya tersembunyi
Mulai dari Rp 350.000 / pax (min. 2 pax, 1 hari)
💬 Tanya Paket Ini
Shakran Tour · Paket Spesial Musiman
Sekaten & Grebeg Maulud Experience
Menyaksikan Prosesi Hajad Dalem Bersama Pemandu Budaya
  • Briefing sejarah dan konteks Sekaten sebelum acara
  • Menyaksikan tabuhan Gamelan Kiai Gunturmadu & Nagawilaga di Pagongan
  • Panduan posisi terbaik untuk menyaksikan prosesi Grebeg Maulud
  • Kunjungan Masjid Gedhe Kauman & lingkungan Kauman
  • Malam: tabuhan gamelan sesi malam (20.00–23.00) dan kuliner sekitar Alun-alun
  • Transportasi & pemandu, tersedia 1 atau 2 hari sesuai kebutuhan
Mulai dari Rp 450.000 / pax (min. 2 pax, tersedia saat Sekaten)
💬 Tanya Paket Ini
Shakran Tour · 2 Hari 1 Malam
Explore Yogyakarta 2D1N
Borobudur · Keraton · Merapi · Prambanan
  • Hari 1: Borobudur sunrise (opsional) → Keraton → Tamansari → Malioboro malam
  • Hari 2: Lava Tour Merapi pagi → Museum Ullen Sentalu → Prambanan
  • Hotel bintang 2–3 di pusat kota Yogyakarta (standar check-in 14.00)
  • Sarapan hotel, makan siang di warung lokal pilihan Shakran Tour
  • Transportasi AC + pemandu + tiket masuk destinasi
Mulai dari Rp 850.000 / pax (min. 2 pax, sudah termasuk hotel)
💬 Tanya Paket Ini
Shakran Tour · Group & Corporate
Custom Yogyakarta Group Tour
Rombongan Sekolah · Keluarga Besar · Corporate Outing
  • Itinerary custom 100% sesuai kebutuhan dan anggaran rombongan
  • Tersedia untuk rombongan pelajar (edu trip), keluarga besar, dan corporate
  • Armada bus pariwisata AC dari Yogyakarta atau jemput dari kota asal
  • Pemandu wisata BNSP + tour leader khusus rombongan
  • Opsi kombinasi: wisata budaya Keraton + alam Merapi + kuliner + belanja
  • Harga spesial untuk rombongan di atas 20 pax
Harga Custom — hubungi kami untuk penawaran terbaik grup Anda
💬 Minta Penawaran Group
🏛️ Kenapa Pilih Shakran Tour untuk Wisata Budaya Yogyakarta? Shakran Tour bukan hanya menyediakan transportasi dan tiket masuk — pemandu kami memahami konteks budaya, sejarah, dan spiritual di balik setiap destinasi. Untuk Sekaten dan Grebeg Maulud khususnya, pemandu kami bisa menjelaskan makna setiap prosesi, mengarahkan ke posisi terbaik untuk menyaksikan momen kunci, dan membantu wisatawan memahami apa yang mereka saksikan bukan hanya sebagai tontonan tapi sebagai warisan hidup yang masih terus bermakna. Sejak 2016, kami telah memandu ribuan wisatawan menikmati Yogyakarta secara lebih dalam.

Shakran Tour · Wisata Budaya Yogyakarta

Rencanakan Perjalanan Budaya Terbaik ke Yogyakarta Bersama Shakran Tour

Apakah Anda ingin menyaksikan Sekaten dan Grebeg Maulud, atau sekadar menjelajahi kekayaan budaya Yogyakarta dari Keraton hingga Prambanan dan Borobudur — Shakran Tour siap merancang perjalanan yang tidak hanya mengunjungi tempat, tapi memahami jiwa di baliknya.

  • Pemandu wisata berlisensi BNSP dengan keahlian budaya Yogyakarta
  • Paket private, grup, sekolah, keluarga, dan corporate tersedia
  • Paket khusus Sekaten & Grebeg Maulud saat musim perayaan
  • Itinerary custom sesuai minat, durasi, dan anggaran
  • Transportasi AC, akomodasi, dan makan sudah termasuk dalam paket

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Sekaten & Grebeg Maulud Yogyakarta

Kapan Sekaten dan Grebeg Maulud Yogyakarta diselenggarakan?
Rangkaian Hajad Dalem Sekaten berlangsung dari 5 Mulud hingga 12 Mulud dalam penanggalan Jawa/Rabiul Awal. Gamelan Sekati ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe dari tanggal 6 sampai dengan 11 Mulud, tiga kali sehari — pagi 08.00–11.00, siang 14.00–17.00, dan malam 20.00–23.00 WIB. Puncaknya, Grebeg Maulud, berlangsung pada 12 Mulud pukul 08.00–11.00 WIB dan sepenuhnya terbuka untuk umum. Karena mengikuti kalender Hijriah, tanggal Masehi-nya bergeser setiap tahun. Pantau kratonjogja.id atau @kratonjogja untuk jadwal resmi.
Apa nama gamelan pusaka yang ditabuh saat Sekaten?
Seperangkat Gamelan Sekati yang dimiliki oleh Kasultanan Yogyakarta merupakan warisan dari Kerajaan Mataram, yaitu Kiai Gunturmadu dan Kiai Guntursari. Saat Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, keduanya dibagi antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kiai Gunturmadu diserahkan kepada Kasultanan Yogyakarta, sedangkan Kiai Guntursari diserahkan pada Kasunanan Surakarta. Untuk mengembalikan gamelan pada kelengkapan semula, Kasultanan Yogyakarta membuat putran (duplikasi) dari Kiai Guntursari yang diberi nama Kiai Nagawilaga.
Berapa jenis gunungan yang diarak saat Grebeg Maulud?
Pada Grebeg Maulud biasa, ada lima gunungan: Kakung, Estri/Wadon, Gepak, Dharat, dan Pawuhan. Pada Tahun Dal, ditambahkan Gunungan Brama yang hanya muncul setiap delapan tahun sekali. Gunungan Brama berbentuk silinder dengan puncak berisi anglo tanah liat yang membakar kemenyan, sehingga sepanjang prosesi mengeluarkan asap pekat. Gunungan Brama hanya didoakan di Masjid Gedhe dan tidak dibagikan kepada masyarakat, melainkan dikembalikan ke Kedhaton untuk Sultan, keluarga, dan Sentana Dalem.
Apa itu Udhik-udhik dalam prosesi Sekaten?
Sri Sultan akan Miyos menuju kompleks Masjid Gedhe untuk menyebarkan Udhik-udhik yang berupa campuran uang logam, kelopak bunga, beras dan biji-bijian pada pukul 19.00 WIB. Pertamanya Udhik-udhik akan disebar di Pagongan Kidul, tempat diletakkannya Gangsa Kiai Gunturmadu, baik ke sisi dalam maupun sisi luar dan dilanjutkan dengan hal yang sama di Pagongan Lor, tempat diletakkannya Gangsa Kiai Nagawilaga. Ini adalah simbol “berbagi berkah dari raja kepada rakyat” dan menjadi salah satu momen paling ditunggu.
Apa itu prosesi Jejak Banon?
Satu prosesi istimewa yang hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali adalah Jejak Banon. Usai mendengarkan Maulid di Masjid Gedhe, Sultan tidak keluar melalui pintu utama, melainkan melalui sisi selatan masjid dengan menjebol tembok benteng. Prosesi ini mengenang peristiwa pada masa Sultan Hamengku Buwono I, ketika situasi politik di Mataram tidak kondusif dan sang Sultan memilih keluar dengan cara menembus benteng.
Apakah Sekaten dan Grebeg Maulud terbuka untuk wisatawan umum?
Ya, sebagian besar prosesi terbuka sepenuhnya untuk umum dan gratis. Seluruh acara yang terbuka untuk umum bisa disaksikan langsung oleh masyarakat dan disiarkan melalui Instagram Live @kratonjogja, sementara pertunjukan Bedhol Songsong dapat dinikmati lewat live streaming YouTube Kraton Jogja. Tabuhan gamelan Sekaten di Pagongan Masjid Gedhe bisa dinikmati gratis setiap hari selama sepekan. Prosesi Grebeg Maulud (arak-arakan gunungan) terbuka penuh untuk umum pukul 08.00–11.00 pada 12 Mulud. Beberapa prosesi internal (Bethak, Pisowanan Ageng) tertutup untuk umum.

Warisan yang Tidak Perlu Dicari Jauh — Karena Ia Masih Hidup di Sini

Di dunia yang semakin banyak menawarkan simulasi dan replikasi, Sekaten dan Grebeg Maulud adalah sesuatu yang langka: tradisi yang masih hidup bukan sebagai museum, bukan sebagai atraksi yang dipentaskan untuk wisatawan, melainkan sebagai kebutuhan — kebutuhan spiritual komunitas yang masih percaya bahwa merayakan kelahiran Nabi dengan cara yang diwarisi leluhur adalah kewajiban yang tidak kalah penting dari ibadah sehari-hari.

Itulah yang membuat menyaksikan Sekaten berbeda dari menonton pertunjukan: kamu tidak sedang menjadi penonton dari luar, kamu sedang diajak masuk ke dalam sesuatu yang sudah berlangsung jauh sebelum kakek buyutmu lahir dan akan terus berlangsung jauh setelah kita semua pergi. Dan untuk beberapa jam dalam satu pagi di bulan Rabiul Awal, kamu menjadi bagian dari kesinambungan itu.