De Djawatan
Di balik jalan desa yang tenang di Banyuwangi, tersembunyi sebuah dunia yang terasa lebih nyata dari mimpi dan lebih megah dari layar bioskop. Ratusan pohon trembesi berusia hingga 150 tahun berdiri membentuk kanopi raksasa — akar berkelok seperti naga, batang setinggi gedung, dan cahaya matahari yang menyelinap dalam berkas-berkas emas di antara daun-daun hijau. Inilah De Djawatan.
De Djawatan: Ketika Hutan Berubah Menjadi Cerita
Ada tempat-tempat di dunia yang terasa seperti diciptakan bukan untuk dihuni, melainkan untuk dirasakan. De Djawatan adalah salah satunya. Berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, sekitar 30 kilometer selatan kota Banyuwangi, kawasan ini dulunya adalah area pengelolaan kayu milik Perhutani yang ditanami trembesi — pohon hujan raksasa yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Samanea saman — sejak era kolonial Belanda sekitar tahun 1870-an.
Yang tidak diperhitungkan oleh para perencana itu adalah bahwa pohon-pohon trembesi tersebut akan tumbuh menjadi makhluk-makhluk raksasa dalam waktu 150 tahun. Batangnya sebesar pelukan lima orang, akarnya mencengkeram tanah seperti cakar naga purba, dan kanopinya mengembang menjangkau langit hingga lebih dari 20 meter. Ketika matahari menyinari celah-celah daun, De Djawatan berubah menjadi pemandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan foto biasa.
Tidak mengherankan jika De Djawatan kemudian menjadi salah satu lokasi syuting paling dicari di Jawa Timur — film-film Indonesia, iklan, hingga konten kreator dari seluruh negeri datang untuk menangkap keajaiban visual yang tidak bisa direplikasi di studio manapun. Masyarakat lokal pun sering membandingkan suasananya dengan hutan-hutan dalam film Lord of the Rings — dan mereka tidak berlebihan.
- Nama resmi: De Djawatan — dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Selatan
- Lokasi: Desa Benculuk, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
- Jenis destinasi: Hutan wisata, ekowisata, spot fotografi alam
- Pohon utama: Trembesi (Samanea saman) — usia 100–150 tahun
- Luas area: ±15 hektar area terbuka untuk wisatawan
- Level kunjungan: Semua usia — sangat ramah keluarga dan anak-anak
- Waktu terbaik: Pagi hari (07.00–09.00) atau sore (15.00–17.00)
- Jarak dari kota: ~30 km dari pusat kota Banyuwangi (~40 menit)
Tiga Keajaiban De Djawatan yang Wajib Kamu Temukan
De Djawatan bukan sekadar hutan dengan pohon besar. Setiap sudutnya menyimpan detail yang berbeda — dari lorong akar yang dramatis hingga sudut-sudut tersembunyi yang terasa seperti gerbang ke dunia lain.
Jantung De Djawatan — deretan pohon trembesi yang kanopinya menyambung di atas membentuk terowongan alam sepanjang ratusan meter. Di sinilah cahaya matahari berubah menjadi berkas-berkas emas yang menembus kegelapan hijau. Pagi hari adalah waktu paling magis: kabut tipis masih bergantung di antara akar, dan suara burung memenuhi lorong ini sebelum suara manusia mengambil alih.
Wajib Dikunjungi · Golden Hour Spot
Akar-akar trembesi yang tumbuh selama lebih dari satu abad menciptakan formasi yang terasa seperti pahatan seniman raksasa. Beberapa akar mencuat dari tanah setinggi satu meter lebih, membentuk lengkungan alami dan gua-gua kecil. Bagi fotografer, inilah bagian yang paling kaya detail — setiap sudut dan setiap cahaya memberikan komposisi yang berbeda. Anak-anak biasanya langsung berlari dan menjadikannya arena bermain alami.
Spot Foto Premium · Anak-anak Suka
Di dalam kawasan De Djawatan, masih terdapat sisa jalur rel kereta api tua yang digunakan di era Belanda untuk mengangkut hasil kayu dari hutan ke pabrik pengolahan. Rel yang kini sudah tidak aktif ini menjadi salah satu elemen visual paling unik — perpaduan antara besi berkarat yang membelah akar-akar trembesi raksasa. Sangat fotogenik dan menjadi latar favorit untuk foto konsep dan pre-wedding.
Pre-wedding Spot · Sejarah💡 Tip dari Guide Lokal: Datanglah saat weekday jika bisa. De Djawatan di hari kerja terasa seperti hutan pribadi — tenang, sepi, dan cahayanya lebih bersih untuk fotografi. Di akhir pekan, terutama saat liburan nasional, kawasan bisa sangat ramai dan suasana magisnya sedikit berkurang. Pagi antara pukul 07.00–09.00 adalah waktu terbaik mutlak — cahaya masuk dari timur, kabut belum sepenuhnya pergi, dan suara hutan masih mendominasi.
De Djawatan + Banyuwangi Lengkap —
Shakran Tour Atur Semua Itinerary-nya
De Djawatan paling seru kalau dikombinasikan dengan Kawah Ijen, Baluran, dan pantai-pantai ikonik Banyuwangi lainnya dalam satu perjalanan. Shakran Tour siap menyusun paket yang pas sesuai waktu dan anggaranmu.
Cara Mencapai De Djawatan: Mudah dari Mana Saja
Salah satu keunggulan De Djawatan dibandingkan banyak destinasi alam di Banyuwangi adalah aksesibilitas yang relatif mudah. Tidak perlu jalan kaki jauh, tidak perlu naik kapal, dan tidak perlu kondisi fisik khusus — cukup datang dan biarkan pohon-pohon itu yang menjemputmu.
🧭 Tiga Jalur Menuju De Djawatan
De Djawatan berlokasi di Desa Benculuk, dapat dicapai dari Banyuwangi kota maupun dari arah Jember. Pilih jalur yang paling sesuai dengan rute perjalananmu.
Dari pusat kota Banyuwangi, ambil arah selatan menuju Rogojampi, lanjut ke Srono, kemudian ke Cluring. Ikuti petunjuk arah menuju Benculuk — dari Cluring sekitar 5 km lagi. Jalan beraspal mulus dan mudah diakses kendaraan roda dua maupun empat. Google Maps sudah mengenali “De Djawatan Benculuk” dengan baik.
Naik bus atau angkutan umum jurusan Jember dari Terminal Brawijaya Banyuwangi, turun di pertigaan Benculuk (minta ke kondektur). Dari pertigaan, lanjut dengan ojek lokal sekitar 2 km menuju De Djawatan. Alternatifnya, gunakan ojek online dari Banyuwangi langsung — biasanya sekitar Rp 40.000–60.000 sekali jalan.
Bagi yang datang dari arah Bali melalui Pelabuhan Ketapang, atau dari arah barat melalui Jember, De Djawatan terletak di jalur utama selatan Banyuwangi — bisa dijadikan pemberhentian pertama setelah tiba di Banyuwangi sebelum melanjutkan ke destinasi lain. Sangat cocok sebagai pembuka perjalanan.
Kapan Waktu Terbaik untuk Datang ke De Djawatan?
De Djawatan bisa dikunjungi sepanjang tahun — tapi ada waktu-waktu tertentu di mana hutan ini menampilkan wajahnya yang paling menakjubkan. Mengetahui kapan itu bisa berarti perbedaan antara foto biasa dan foto yang tidak akan terlupakan seumur hidup.
Bulan-bulan kering memberikan cahaya yang lebih jernih dan langit yang lebih cerah — sinar matahari menembus kanopi trembesi dengan sempurna menciptakan efek cahaya (god rays) yang membuat De Djawatan tampak magis. Daun-daun trembesi cenderung lebih lebat di awal musim hujan (November–Januari), sehingga kanopi lebih rapat dan bayangan lebih dramatis. Secara keseluruhan, September–April adalah sweet spot terbaik.
Musim hujan tidak membuat De Djawatan tertutup — justru hujan membuat seluruh kawasan menjadi lebih hijau dan segar. Tanah basah mengeluarkan aroma tanah hutan yang khas, dan dedaunan tampak bersinar. Namun jalur tanah di dalam kawasan bisa menjadi berlumpur dan becek, dan cahaya mendung mengurangi efek sinar matahari yang dramatis. Bawa alas kaki yang tepat dan siapkan jas hujan ringan.
⏰ Soal Jam Kunjungan: Pagi antara pukul 07.00–09.00 adalah golden window De Djawatan — cahaya matahari rendah dari timur menerobos sela-sela akar dan daun dengan sudut yang tidak bisa ditiru di waktu lain. Sore antara 15.00–17.30 juga indah saat cahaya keemasan dari barat mulai mewarnai batang pohon. Siang hari (11.00–14.00) adalah waktu yang paling tidak direkomendasikan untuk fotografi — cahaya keras dari atas menciptakan kontras yang terlalu ekstrem.
Fasilitas de Djawatan: Nyaman untuk Semua Kalangan
Selama beberapa tahun terakhir, pengelola De Djawatan terus memperbaiki fasilitas tanpa mengorbankan kesederhanaan dan keaslian alam yang menjadi daya tarik utamanya. Ini bukan resort mewah — ini adalah hutan wisata yang dirawat dengan penuh rasa hormat terhadap alam.
Bagi yang ingin merasakan bermalam di bawah kanopi trembesi, De Djawatan menyediakan area camping yang bisa disewa. Beberapa penyelenggara glamping juga tersedia melalui kolaborasi dengan pihak ketiga — tenda eksklusif dengan pencahayaan yang indah di malam hari. Malam di De Djawatan adalah pengalaman yang benar-benar berbeda.
Beberapa warung makan dan pedagang kaki lima beroperasi di area pintu masuk dan sekitar kawasan. Menu khas Banyuwangi tersedia — soto rujak, pecel pitik, hingga minuman kelapa muda segar. Harga terjangkau dan makanannya autentik. Di akhir pekan, pilihan kuliner biasanya lebih banyak.
Toilet umum, mushola, area parkir luas untuk roda dua dan empat, dan area istirahat tersedia di kawasan. Pengelola Perhutani secara aktif melakukan pembenahan fasilitas sesuai perkembangan jumlah wisatawan. Terdapat juga spot-spot istirahat dengan bangku di bawah pohon-pohon besar.
Soal Tiket Masuk: Harga tiket masuk De Djawatan relatif terjangkau dan dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. Tiket masuk per orang berkisar Rp 10.000–20.000 (bisa berubah — konfirmasi ke pengelola atau ke Shakran Tour). Biaya parkir terpisah untuk kendaraan. Tidak ada pungutan liar — semua pembayaran dilakukan di loket resmi. Bawa uang tunai karena belum tentu tersedia mesin EDC di lokasi.
Aktivitas di De Djawatan: Lebih dari Sekadar Berfoto
De Djawatan sering dianggap hanya sebagai spot foto — padahal kawasan ini menyimpan pengalaman yang jauh lebih kaya dari sekadar frame Instagram yang sempurna. Luangkan waktu lebih dari sekadar satu jam, dan kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda.
“Saya sudah keliling Jawa berkali-kali. Tapi De Djawatan adalah tempat yang membuat saya berhenti berjalan dan hanya berdiri diam. Bukan karena lelah — tapi karena tiba-tiba sadar bahwa yang ada di depan saya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Pohon-pohon itu tahu cara membuat manusia merasa kecil dengan cara yang paling indah.”
— Wisatawan domestik, kunjungan ke De Djawatan 2024 · via ulasan Google MapsDe Djawatan dalam Paket Wisata Banyuwangi Shakran
De Djawatan paling seru dijadikan satu paket dengan destinasi-destinasi Banyuwangi lainnya. Shakran Tour menyediakan berbagai pilihan paket yang mengakomodasi De Djawatan bersama destinasi terbaik di Banyuwangi.
- De Djawatan — pagi hari (golden hour)
- Pantai Pulau Merah — surfing & sunset
- Kuliner lokal di perjalanan
- Transport & driver berpengalaman
- Tiket masuk semua destinasi
- Fleksibel — bisa dikustomisasi
- Hari 1: De Djawatan pagi + Pantai Pulau Merah
- Hari 2 dini hari: Kawah Ijen Blue Fire + Sunrise
- Akomodasi 1 malam dekat Ijen
- Transport, driver & guide
- Tiket masuk & masker gas Ijen
- Sarapan & makan malam termasuk
- Hari 1: De Djawatan pagi + Pantai Pulau Merah sore
- Hari 2: Safari Baluran Africa van Java
- Hari 3 dini hari: Kawah Ijen Blue Fire + Sunrise
- Akomodasi 2 malam + semua transport
- Guide & semua tiket masuk termasuk
- Bisa tambah G-Land / Alas Purwo
Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum ke De Djawatan
- Alamat: Desa Benculuk, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
- Jarak dari kota Banyuwangi: ±30 km ke selatan, sekitar 40–50 menit berkendara
- Cari di Google Maps: “De Djawatan Benculuk Banyuwangi” — sudah terdaftar dengan tepat
- Akses jalan beraspal mulus, bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat
- Dari arah Jember: lewati Cluring, kemudian ikuti petunjuk ke Benculuk
- Jam buka: ±07.00–17.00 WIB setiap hari (bisa berubah — konfirmasi pengelola)
- Waktu terbaik fotografi: 07.00–09.00 pagi (golden hour dari timur)
- Waktu terbaik kedua: 15.00–17.00 sore (cahaya keemasan dari barat)
- Hindari 11.00–13.00 untuk foto — cahaya keras dari atas
- Weekday jauh lebih sepi dan tenang dibandingkan akhir pekan atau libur nasional
- Tiket masuk: ±Rp 10.000–20.000 per orang (konfirmasi terbaru ke pengelola)
- Parkir kendaraan roda dua: ±Rp 5.000
- Parkir kendaraan roda empat: ±Rp 10.000–15.000
- Biaya glamping / camping: bervariasi — tanya langsung ke pengelola atau mitra glamping
- Ojek dari pertigaan Benculuk: ±Rp 10.000–15.000 per orang sekali jalan
- Alas kaki nyaman untuk berjalan di tanah yang mungkin tidak rata atau sedikit basah
- Kamera atau smartphone yang baik — De Djawatan sangat fotogenik dan sayang jika tidak diabadikan
- Air minum yang cukup — cuaca Banyuwangi bisa panas terutama siang hari
- Repellent nyamuk ringan terutama jika datang pagi atau sore hari
- Uang tunai — warung dan parkir umumnya belum menerima pembayaran digital
- Sangat ramah keluarga — anak-anak dan lansia bisa dengan nyaman menjelajahi kawasan
- Tidak ada trek sulit atau tanjakan ekstrem — area relatif datar
- Cocok untuk pasangan, grup pertemanan, keluarga, solo traveler, maupun rombongan
- Sangat ideal untuk wisatawan yang ingin pengalaman alam tanpa fisik yang berat
- Disabilitas: area utama cukup bisa diakses, tapi belum semua jalur ramah kursi roda
- Jangan memanjat atau merusak pohon — pohon trembesi ini adalah warisan alam yang tidak bisa diperbaiki jika rusak
- Tidak membuang sampah sembarangan — bawa pulang sampahmu jika tidak ada tempat sampah di sekitar
- Tidak memetik daun, dahan, atau bagian pohon manapun
- Volume suara yang sopan — terutama pagi hari saat suasana masih tenang dan magis
- Ikuti petunjuk pengelola Perhutani yang ada di lokasi
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang De Djawatan
Siap Berdiri di Bawah
Pohon Tertua di Banyuwangi?
De Djawatan menunggu — dan Shakran Tour siap membantu kamu merencanakan perjalanannya dari A sampai Z. Dari jadwal kunjungan yang optimal, kombinasi destinasi yang tepat, hingga paket Banyuwangi lengkap yang menggabungkan De Djawatan dengan semua keajaiban lain yang dimiliki ujung timur Jawa ini.
PT Shakran Kreasi Indonesia · Yogyakarta · shakrankreasi.com
Halaman ini adalah panduan destinasi yang dibuat untuk membantu wisatawan merencanakan perjalanan terbaik ke De Djawatan, Benculuk, Banyuwangi, Jawa Timur.



