shakrankreasi.com

De Djawatan, Banyuwangi — Hutan Trembesi Purba yang Terasa Seperti Film Fantasy 2025 | Shakran Tour
De Djawatan Banyuwangi — kanopi pohon trembesi raksasa berusia ratusan tahun membentuk lorong hutan magis seperti dalam film fantasy
Benculuk · Banyuwangi, Jawa Timur · Hutan Trembesi

De Djawatan

The Enchanted Forest of East Java

Di balik jalan desa yang tenang di Banyuwangi, tersembunyi sebuah dunia yang terasa lebih nyata dari mimpi dan lebih megah dari layar bioskop. Ratusan pohon trembesi berusia hingga 150 tahun berdiri membentuk kanopi raksasa — akar berkelok seperti naga, batang setinggi gedung, dan cahaya matahari yang menyelinap dalam berkas-berkas emas di antara daun-daun hijau. Inilah De Djawatan.

🌳 Pohon Trembesi 150 Tahun 📸 Spot Foto Ikonik Banyuwangi 🎬 Lokasi Syuting Nasional 🌿 Hutan Pengelolaan Perhutani ⭐ Ramah Keluarga 🚂 Bekas Jalur KA Bersejarah
Scroll
±150
Usia Pohon (Tahun)
±15 Ha
Luas Area Hutan
20m+
Tinggi Kanopi
1870-an
Era Tanam Trembesi
Sep–Apr
Musim Terbaik

De Djawatan: Ketika Hutan Berubah Menjadi Cerita

Ada tempat-tempat di dunia yang terasa seperti diciptakan bukan untuk dihuni, melainkan untuk dirasakan. De Djawatan adalah salah satunya. Berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, sekitar 30 kilometer selatan kota Banyuwangi, kawasan ini dulunya adalah area pengelolaan kayu milik Perhutani yang ditanami trembesi — pohon hujan raksasa yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Samanea saman — sejak era kolonial Belanda sekitar tahun 1870-an.

Yang tidak diperhitungkan oleh para perencana itu adalah bahwa pohon-pohon trembesi tersebut akan tumbuh menjadi makhluk-makhluk raksasa dalam waktu 150 tahun. Batangnya sebesar pelukan lima orang, akarnya mencengkeram tanah seperti cakar naga purba, dan kanopinya mengembang menjangkau langit hingga lebih dari 20 meter. Ketika matahari menyinari celah-celah daun, De Djawatan berubah menjadi pemandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan foto biasa.

Tidak mengherankan jika De Djawatan kemudian menjadi salah satu lokasi syuting paling dicari di Jawa Timur — film-film Indonesia, iklan, hingga konten kreator dari seluruh negeri datang untuk menangkap keajaiban visual yang tidak bisa direplikasi di studio manapun. Masyarakat lokal pun sering membandingkan suasananya dengan hutan-hutan dalam film Lord of the Rings — dan mereka tidak berlebihan.

📌 Info Cepat
  • Nama resmi: De Djawatan — dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Selatan
  • Lokasi: Desa Benculuk, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
  • Jenis destinasi: Hutan wisata, ekowisata, spot fotografi alam
  • Pohon utama: Trembesi (Samanea saman) — usia 100–150 tahun
  • Luas area: ±15 hektar area terbuka untuk wisatawan
  • Level kunjungan: Semua usia — sangat ramah keluarga dan anak-anak
  • Waktu terbaik: Pagi hari (07.00–09.00) atau sore (15.00–17.00)
  • Jarak dari kota: ~30 km dari pusat kota Banyuwangi (~40 menit)

Tiga Keajaiban De Djawatan yang Wajib Kamu Temukan

De Djawatan bukan sekadar hutan dengan pohon besar. Setiap sudutnya menyimpan detail yang berbeda — dari lorong akar yang dramatis hingga sudut-sudut tersembunyi yang terasa seperti gerbang ke dunia lain.

Lorong pohon trembesi berkanopi tinggi Di Djawatan Banyuwangi sinar matahari celah daun
1
Lorong Kanopi Trembesi
Ikon De Djawatan

Jantung De Djawatan — deretan pohon trembesi yang kanopinya menyambung di atas membentuk terowongan alam sepanjang ratusan meter. Di sinilah cahaya matahari berubah menjadi berkas-berkas emas yang menembus kegelapan hijau. Pagi hari adalah waktu paling magis: kabut tipis masih bergantung di antara akar, dan suara burung memenuhi lorong ini sebelum suara manusia mengambil alih.

Wajib Dikunjungi · Golden Hour Spot
Akar raksasa pohon trembesi berkelok Di Djawatan Benculuk Banyuwangi
2
Labirin Akar Raksasa
Fotografi & Eksplorasi

Akar-akar trembesi yang tumbuh selama lebih dari satu abad menciptakan formasi yang terasa seperti pahatan seniman raksasa. Beberapa akar mencuat dari tanah setinggi satu meter lebih, membentuk lengkungan alami dan gua-gua kecil. Bagi fotografer, inilah bagian yang paling kaya detail — setiap sudut dan setiap cahaya memberikan komposisi yang berbeda. Anak-anak biasanya langsung berlari dan menjadikannya arena bermain alami.

Spot Foto Premium · Anak-anak Suka
Rel kereta api tua bekas jalur perkebunan di De Djawatan Banyuwangi
3
Rel Kereta Api Bersejarah
Warisan Kolonial · Fotogenik

Di dalam kawasan De Djawatan, masih terdapat sisa jalur rel kereta api tua yang digunakan di era Belanda untuk mengangkut hasil kayu dari hutan ke pabrik pengolahan. Rel yang kini sudah tidak aktif ini menjadi salah satu elemen visual paling unik — perpaduan antara besi berkarat yang membelah akar-akar trembesi raksasa. Sangat fotogenik dan menjadi latar favorit untuk foto konsep dan pre-wedding.

Pre-wedding Spot · Sejarah

💡 Tip dari Guide Lokal: Datanglah saat weekday jika bisa. De Djawatan di hari kerja terasa seperti hutan pribadi — tenang, sepi, dan cahayanya lebih bersih untuk fotografi. Di akhir pekan, terutama saat liburan nasional, kawasan bisa sangat ramai dan suasana magisnya sedikit berkurang. Pagi antara pukul 07.00–09.00 adalah waktu terbaik mutlak — cahaya masuk dari timur, kabut belum sepenuhnya pergi, dan suara hutan masih mendominasi.

✦ Shakran Tour · Paket Banyuwangi

De Djawatan + Banyuwangi Lengkap —
Shakran Tour Atur Semua Itinerary-nya

De Djawatan paling seru kalau dikombinasikan dengan Kawah Ijen, Baluran, dan pantai-pantai ikonik Banyuwangi lainnya dalam satu perjalanan. Shakran Tour siap menyusun paket yang pas sesuai waktu dan anggaranmu.

Cara Mencapai De Djawatan: Mudah dari Mana Saja

Salah satu keunggulan De Djawatan dibandingkan banyak destinasi alam di Banyuwangi adalah aksesibilitas yang relatif mudah. Tidak perlu jalan kaki jauh, tidak perlu naik kapal, dan tidak perlu kondisi fisik khusus — cukup datang dan biarkan pohon-pohon itu yang menjemputmu.

🧭 Tiga Jalur Menuju De Djawatan

De Djawatan berlokasi di Desa Benculuk, dapat dicapai dari Banyuwangi kota maupun dari arah Jember. Pilih jalur yang paling sesuai dengan rute perjalananmu.

🚗
Dari Banyuwangi Kota
~40–50 menit · ±30 km

Dari pusat kota Banyuwangi, ambil arah selatan menuju Rogojampi, lanjut ke Srono, kemudian ke Cluring. Ikuti petunjuk arah menuju Benculuk — dari Cluring sekitar 5 km lagi. Jalan beraspal mulus dan mudah diakses kendaraan roda dua maupun empat. Google Maps sudah mengenali “De Djawatan Benculuk” dengan baik.

🚌
Kendaraan Umum & Ojek
~1–1,5 jam dari Banyuwangi

Naik bus atau angkutan umum jurusan Jember dari Terminal Brawijaya Banyuwangi, turun di pertigaan Benculuk (minta ke kondektur). Dari pertigaan, lanjut dengan ojek lokal sekitar 2 km menuju De Djawatan. Alternatifnya, gunakan ojek online dari Banyuwangi langsung — biasanya sekitar Rp 40.000–60.000 sekali jalan.

🚂🚗
Dari Arah Jember / Bali
~2 jam dari Ketapang

Bagi yang datang dari arah Bali melalui Pelabuhan Ketapang, atau dari arah barat melalui Jember, De Djawatan terletak di jalur utama selatan Banyuwangi — bisa dijadikan pemberhentian pertama setelah tiba di Banyuwangi sebelum melanjutkan ke destinasi lain. Sangat cocok sebagai pembuka perjalanan.

Perjalanan menuju De Djawatan Banyuwangi jalan pedesaan Benculuk
Jalur menuju De Djawatan melewati desa-desa Banyuwangi yang tenang — perjalanannya sendiri sudah terasa seperti bagian dari destinasi
Parkir dan pintu masuk De Djawatan Benculuk Banyuwangi
Area parkir De Djawatan cukup luas untuk kendaraan roda dua dan empat — fasilitas yang terus diperbaiki oleh pengelola Perhutani

Kapan Waktu Terbaik untuk Datang ke De Djawatan?

De Djawatan bisa dikunjungi sepanjang tahun — tapi ada waktu-waktu tertentu di mana hutan ini menampilkan wajahnya yang paling menakjubkan. Mengetahui kapan itu bisa berarti perbedaan antara foto biasa dan foto yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

☀️ Musim Terbaik — September s/d April
September – April

Bulan-bulan kering memberikan cahaya yang lebih jernih dan langit yang lebih cerah — sinar matahari menembus kanopi trembesi dengan sempurna menciptakan efek cahaya (god rays) yang membuat De Djawatan tampak magis. Daun-daun trembesi cenderung lebih lebat di awal musim hujan (November–Januari), sehingga kanopi lebih rapat dan bayangan lebih dramatis. Secara keseluruhan, September–April adalah sweet spot terbaik.

🌧️ Musim Hujan — Pertimbangkan
Mei – Agustus

Musim hujan tidak membuat De Djawatan tertutup — justru hujan membuat seluruh kawasan menjadi lebih hijau dan segar. Tanah basah mengeluarkan aroma tanah hutan yang khas, dan dedaunan tampak bersinar. Namun jalur tanah di dalam kawasan bisa menjadi berlumpur dan becek, dan cahaya mendung mengurangi efek sinar matahari yang dramatis. Bawa alas kaki yang tepat dan siapkan jas hujan ringan.

⏰ Soal Jam Kunjungan: Pagi antara pukul 07.00–09.00 adalah golden window De Djawatan — cahaya matahari rendah dari timur menerobos sela-sela akar dan daun dengan sudut yang tidak bisa ditiru di waktu lain. Sore antara 15.00–17.30 juga indah saat cahaya keemasan dari barat mulai mewarnai batang pohon. Siang hari (11.00–14.00) adalah waktu yang paling tidak direkomendasikan untuk fotografi — cahaya keras dari atas menciptakan kontras yang terlalu ekstrem.

Fasilitas de Djawatan: Nyaman untuk Semua Kalangan

Selama beberapa tahun terakhir, pengelola De Djawatan terus memperbaiki fasilitas tanpa mengorbankan kesederhanaan dan keaslian alam yang menjadi daya tarik utamanya. Ini bukan resort mewah — ini adalah hutan wisata yang dirawat dengan penuh rasa hormat terhadap alam.

Area Camping & Glamping
Tersedia

Bagi yang ingin merasakan bermalam di bawah kanopi trembesi, De Djawatan menyediakan area camping yang bisa disewa. Beberapa penyelenggara glamping juga tersedia melalui kolaborasi dengan pihak ketiga — tenda eksklusif dengan pencahayaan yang indah di malam hari. Malam di De Djawatan adalah pengalaman yang benar-benar berbeda.

Tenda sewa Glamping tersedia Booking via pengelola
Warung & Kuliner Lokal
Aktif

Beberapa warung makan dan pedagang kaki lima beroperasi di area pintu masuk dan sekitar kawasan. Menu khas Banyuwangi tersedia — soto rujak, pecel pitik, hingga minuman kelapa muda segar. Harga terjangkau dan makanannya autentik. Di akhir pekan, pilihan kuliner biasanya lebih banyak.

Kuliner lokal Minuman segar Harga terjangkau
Fasilitas Pendukung Lengkap
Terus Diperbaiki

Toilet umum, mushola, area parkir luas untuk roda dua dan empat, dan area istirahat tersedia di kawasan. Pengelola Perhutani secara aktif melakukan pembenahan fasilitas sesuai perkembangan jumlah wisatawan. Terdapat juga spot-spot istirahat dengan bangku di bawah pohon-pohon besar.

Toilet Mushola Parkir luas Area istirahat

Soal Tiket Masuk: Harga tiket masuk De Djawatan relatif terjangkau dan dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Selatan. Tiket masuk per orang berkisar Rp 10.000–20.000 (bisa berubah — konfirmasi ke pengelola atau ke Shakran Tour). Biaya parkir terpisah untuk kendaraan. Tidak ada pungutan liar — semua pembayaran dilakukan di loket resmi. Bawa uang tunai karena belum tentu tersedia mesin EDC di lokasi.

Aktivitas di De Djawatan: Lebih dari Sekadar Berfoto

De Djawatan sering dianggap hanya sebagai spot foto — padahal kawasan ini menyimpan pengalaman yang jauh lebih kaya dari sekadar frame Instagram yang sempurna. Luangkan waktu lebih dari sekadar satu jam, dan kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda.

📸
Fotografi & Konten Kreatif
De Djawatan adalah surga bagi fotografer — setiap sudut adalah komposisi yang berbeda. Dari portrait di bawah akar raksasa, siluet di lorong kanopi, hingga foto long exposure kabut pagi hari. Banyak kreator konten, fotografer profesional, dan produksi iklan nasional datang khusus ke sini.
Golden Hour · Pre-wedding · Brand Shoot
🥾
Jalan Santai & Eksplorasi
Berjalan di antara pohon-pohon trembesi raksasa adalah pengalaman meditatif yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Tidak perlu trekking ekstrem — cukup berjalan, berhenti, perhatikan detail akar dan kulit pohon, dan biarkan suasana hutan yang bekerja. Cocok untuk semua usia termasuk lansia dan anak kecil.
Semua Usia · Ramah Keluarga
Camping & Bermalam
Bermalam di bawah kanopi trembesi adalah sesuatu yang perlu kamu alami setidaknya sekali. Malam hari di De Djawatan terasa seperti berada di dalam cerita — pohon-pohon raksasa berdiri gelap di bawah bintang, suara jangkrik mengisi udara malam, dan langit lebih bersih dari kebanyakan tempat di Jawa.
Booking Advance · Glamping Tersedia
🧺
Piknik & Family Day Out
Hamparan tanah yang teduh di bawah kanopi trembesi adalah tempat piknik alami yang sempurna. Bawa tikar, makanan dari warung setempat, dan habiskan beberapa jam bersama keluarga — anak-anak bisa berlari di antara akar, sementara orang tua menikmati angin sejuk dan suasana yang tidak bisa ditemukan di taman kota manapun.
Keluarga · Anak-anak · Santai
💍
Pre-Wedding & Momen Spesial
De Djawatan sudah menjadi salah satu lokasi pre-wedding paling populer di Jawa Timur. Lorong pohon yang memanjang, akar yang membentuk frame alami, dan cahaya golden hour yang dramatis — semua elemen ideal untuk foto pra-nikah yang tidak biasa. Koordinasikan izin syuting dengan pengelola untuk sesi lebih privat.
Pre-wedding · Sesi Privat Tersedia
🐦
Birdwatching & Alam Liar
Kanopi trembesi yang rapat adalah habitat yang disukai berbagai jenis burung. Pagi hari, suara kicau berbagai spesies memenuhi seluruh kawasan. Bagi yang hobi birdwatching, De Djawatan menawarkan pengamatan burung dalam latar yang sangat indah — dan cukup mudah diakses tanpa perlu masuk ke dalam hutan lebat.
Birdwatching · Fotografi Satwa

“Saya sudah keliling Jawa berkali-kali. Tapi De Djawatan adalah tempat yang membuat saya berhenti berjalan dan hanya berdiri diam. Bukan karena lelah — tapi karena tiba-tiba sadar bahwa yang ada di depan saya terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Pohon-pohon itu tahu cara membuat manusia merasa kecil dengan cara yang paling indah.”

— Wisatawan domestik, kunjungan ke De Djawatan 2024 · via ulasan Google Maps

De Djawatan dalam Paket Wisata Banyuwangi Shakran

De Djawatan paling seru dijadikan satu paket dengan destinasi-destinasi Banyuwangi lainnya. Shakran Tour menyediakan berbagai pilihan paket yang mengakomodasi De Djawatan bersama destinasi terbaik di Banyuwangi.

Paket De Djawatan Kawah Ijen Blue Fire 2 Hari Banyuwangi Shakran Tour
Private Trip · 2 Hari 1 Malam
De Djawatan + Kawah Ijen Blue Fire — Banyuwangi 2D1M
  • Hari 1: De Djawatan pagi + Pantai Pulau Merah
  • Hari 2 dini hari: Kawah Ijen Blue Fire + Sunrise
  • Akomodasi 1 malam dekat Ijen
  • Transport, driver & guide
  • Tiket masuk & masker gas Ijen
  • Sarapan & makan malam termasuk
Mulai Rp 850.000 /orang
Pesan & Konsultasi
Paket Full Banyuwangi De Djawatan Baluran Kawah Ijen 3 Hari Shakran Tour
Private Trip · 3 Hari 2 Malam
Full Banyuwangi — De Djawatan + Baluran + Ijen 3D2M
  • Hari 1: De Djawatan pagi + Pantai Pulau Merah sore
  • Hari 2: Safari Baluran Africa van Java
  • Hari 3 dini hari: Kawah Ijen Blue Fire + Sunrise
  • Akomodasi 2 malam + semua transport
  • Guide & semua tiket masuk termasuk
  • Bisa tambah G-Land / Alas Purwo
Mulai Rp 1.550.000 /orang
Pesan & Konsultasi

Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum ke De Djawatan

📍 Lokasi & Akses Singkat
  • Alamat: Desa Benculuk, Kec. Cluring, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
  • Jarak dari kota Banyuwangi: ±30 km ke selatan, sekitar 40–50 menit berkendara
  • Cari di Google Maps: “De Djawatan Benculuk Banyuwangi” — sudah terdaftar dengan tepat
  • Akses jalan beraspal mulus, bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat
  • Dari arah Jember: lewati Cluring, kemudian ikuti petunjuk ke Benculuk
⏰ Jam Buka & Waktu Terbaik
  • Jam buka: ±07.00–17.00 WIB setiap hari (bisa berubah — konfirmasi pengelola)
  • Waktu terbaik fotografi: 07.00–09.00 pagi (golden hour dari timur)
  • Waktu terbaik kedua: 15.00–17.00 sore (cahaya keemasan dari barat)
  • Hindari 11.00–13.00 untuk foto — cahaya keras dari atas
  • Weekday jauh lebih sepi dan tenang dibandingkan akhir pekan atau libur nasional
💰 Tiket & Estimasi Biaya
  • Tiket masuk: ±Rp 10.000–20.000 per orang (konfirmasi terbaru ke pengelola)
  • Parkir kendaraan roda dua: ±Rp 5.000
  • Parkir kendaraan roda empat: ±Rp 10.000–15.000
  • Biaya glamping / camping: bervariasi — tanya langsung ke pengelola atau mitra glamping
  • Ojek dari pertigaan Benculuk: ±Rp 10.000–15.000 per orang sekali jalan
👔 Apa yang Perlu Dibawa
  • Alas kaki nyaman untuk berjalan di tanah yang mungkin tidak rata atau sedikit basah
  • Kamera atau smartphone yang baik — De Djawatan sangat fotogenik dan sayang jika tidak diabadikan
  • Air minum yang cukup — cuaca Banyuwangi bisa panas terutama siang hari
  • Repellent nyamuk ringan terutama jika datang pagi atau sore hari
  • Uang tunai — warung dan parkir umumnya belum menerima pembayaran digital
👨‍👩‍👧 Ramah Siapa Saja?
  • Sangat ramah keluarga — anak-anak dan lansia bisa dengan nyaman menjelajahi kawasan
  • Tidak ada trek sulit atau tanjakan ekstrem — area relatif datar
  • Cocok untuk pasangan, grup pertemanan, keluarga, solo traveler, maupun rombongan
  • Sangat ideal untuk wisatawan yang ingin pengalaman alam tanpa fisik yang berat
  • Disabilitas: area utama cukup bisa diakses, tapi belum semua jalur ramah kursi roda
⚠️ Etika Berkunjung
  • Jangan memanjat atau merusak pohon — pohon trembesi ini adalah warisan alam yang tidak bisa diperbaiki jika rusak
  • Tidak membuang sampah sembarangan — bawa pulang sampahmu jika tidak ada tempat sampah di sekitar
  • Tidak memetik daun, dahan, atau bagian pohon manapun
  • Volume suara yang sopan — terutama pagi hari saat suasana masih tenang dan magis
  • Ikuti petunjuk pengelola Perhutani yang ada di lokasi

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang De Djawatan

Mengapa disebut De Djawatan? Apa artinya?
Nama “De Djawatan” berasal dari kata “djawatan” yang merupakan ejaan lama dari “jawatan” — yang dalam bahasa Indonesia berarti instansi atau dinas pemerintah. Kawasan ini dahulu memang merupakan lahan yang dikelola oleh jawatan kehutanan kolonial Belanda (Boswesen) yang kemudian diwariskan ke Perhutani. Awalan “De” adalah bahasa Belanda untuk “The” — sehingga “De Djawatan” secara harfiah berarti “The Department” atau “The Official Forest”. Nama ini menjadi identitas unik yang menyimpan sejarah kolonial dalam setiap kunjungannya.
Berapa lama waktu ideal untuk mengunjungi De Djawatan?
Untuk kunjungan biasa (jalan-jalan dan foto), 2–3 jam sudah cukup untuk menjelajahi kawasan utama. Namun jika kamu datang untuk fotografi serius, pre-wedding, atau sekadar ingin menikmati suasana secara mendalam, luangkan minimal 4–5 jam — datang sejak golden hour pagi, nikmati perlahan, dan baru keluar menjelang siang. Untuk yang bermalam, tentu waktunya jauh lebih luas dan pengalamannya berbeda dimensi.
Apakah De Djawatan ramai pengunjung? Bagaimana menghindari keramaian?
De Djawatan semakin populer dan bisa sangat ramai di akhir pekan, hari libur nasional, dan musim liburan sekolah. Cara terbaik menghindari keramaian adalah datang di hari kerja (Senin–Jumat) dan/atau tiba sebelum jam 08.00. Pagi hari di weekday adalah waktu paling ideal — kawasan terasa hampir seperti milik pribadi, dan cahaya serta suasananya jauh lebih magis. Siang dan sore di akhir pekan adalah waktu paling padat.
Apakah bisa berkunjung saat musim hujan?
Bisa — De Djawatan tidak tutup saat hujan. Bahkan, banyak fotografer yang justru menyukai De Djawatan setelah hujan: tanah basah memantulkan cahaya, daun-daun hijau bersinar, dan ada kabut tipis yang menambah nuansa magis. Yang perlu dipersiapkan adalah alas kaki anti-slip karena tanah bisa berlumpur, dan jas hujan ringkas jika cuaca tidak menentu. Hindari berkunjung saat hujan deras karena pohon berukuran besar berpotensi merontokkan dahan.
Bagaimana cara memesan paket wisata De Djawatan dengan Shakran Tour?
Hubungi tim Shakran Tour via WhatsApp di nomor yang tertera atau kunjungi shakrankreasi.com. Kami menyediakan paket satu hari yang mengombinasikan De Djawatan dengan Pantai Pulau Merah, maupun paket multi-hari bersama Kawah Ijen, Baluran, dan G-Land. Semua paket bersifat private trip dan bisa dikustomisasi sesuai jumlah orang, durasi, dan preferensimu. Konsultasi pertama gratis — kami dengan senang hati membantu merancang perjalanan terbaikmu ke Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *